Mengenal Derajat Luka Bakar dan Perawatannya

Mengenal Derajat Luka Bakar dan Perawatannya – Luka bakar adalah kondisi rusaknya jaringan tubuh yang disebabkan oleh suhu panas, misalnya karena air, uap, atau minyak panas, bahan kimia keras, listrik, radiasi, atau gas yang mudah terbakar. Derajat luka bakar terdiri dari beberapa tingkat, mulai dari yang ringan hingga berat.

Ketika mengalami luka bakar, Anda perlu mengenali derajat luka bakar yang terjadi pada kulit. Jika kesulitan menentukan seberapa parah luka bakar yang dialami, Anda dapat berkonsultasi ke dokter.

Dokter dapat memeriksa kondisi Anda dan menentukan seberapa parah derajat luka bakar yang Anda alami, termasuk seberapa luas luka bakar tersebut di tubuh Anda. Tujuannya adalah agar dokter dapat menentukan pengobatan dan perawatan luka bakar yang tepat.

Mengenal Derajat Luka Bakar dan Gejalanya

Ada beberapa penampakan pada luka bakar yang umum terjadi, antara lain kulit kemerahan, melepuh, terkelupas, bengkak, dan bahkan terlihat hangus. Luka bakar tersebut juga terkadang disertai rasa nyeri atau sakit.

Derajat luka bakar dapat diklasifikasikan menjadi 3 tingkat, yakni tingkat 1, 2, dan 3. Setiap derajat luka bakar dinilai berdasarkan tingkat keparahan dan kerusakan yang diakibatkan pada kulit.

Berikut ini adalah derajat luka bakar berdasarkan tingkat keparahannya:

Derajat luka bakar tingkat 1 (superficial burn)

Tingkat luka bakar yang hanya memengaruhi epidermis atau lapisan kulit luar saja. Secara klinis, tandanya berupa kulit yang tampak merah, kering, dan terasa sakit. Contohnya, luka bakar yang disebabkan oleh sinar matahari. Luka bakar tingkat satu ini tidak terlalu mengkhawatirkan dan bisa sembuh dengan sendirinya.

Derajat luka bakar tingkat 2 (superficial partial-thickness burn)

Derajat luka bakar ini dapat dikatakan luka bakar tingkat sedang. Luka bakar tingkat 2 ini terjadi pada epidermis dan sebagian lapisan dermis kulit (lapisan kulit yang lebih dalam).

Ketika mengalami luka bakar tingkat 2, kulit Anda akan tampak merah, lecet, melepuh, bengkak, dan terasa sakit. Luka bakar tingkat dua ini bisa ditangani dengan beberapa metode pengobatan tanpa operasi atau bedah.

Derajat luka bakar tingkat 3 (full thickness burn)

Kerusakan jaringan mengenai seluruh lapisan epidermis dan dermis, atau lebih dalam lagi. Secara klinis, kulit yang terbakar akan tampak putih dan kasar, namun juga dapat terlihat hangus dan mati rasa. Operasi atau bedah menjadi pilihan utama untuk menangani luka bakar pada tingkat ini.

Penentuan tingkat keparahan luka bakar juga dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu:

  • Luka bakar minor yang terdiri dari luka bakar tingkat 1 di bagian tubuh mana saja, termasuk luka bakar tingkat dua yang lebarnya 5–7,5 cm.
  • Luka bakar mayor yang terdiri dari luka bakar tingkat 2 pada tangan, kaki, wajah, alat kelamin, dan bagian tubuh lainnya dengan lebar luka lebih dari 5–7,5 cm. Derajat luka bakar tingkat 3 juga termasuk kelompok luka bakar mayor.

Dibandingkan dengan luka bakar tingkat 1 dan 2, derajat luka bakar tingkat 3 lebih berisiko menimbulkan komplikasi berbahaya, seperti infeksi, dehidrasi berat, dan bahkan menyebabkan kematian.

Luka bakar yang parah juga dapat berisiko menyebabkan hipotermia dan hipovolemia atau berkurangnya jumlah cairan di dalam darah. Kondisi ini dapat menyebabkan syok.

Baca Juga : Jenis Salep Luka Bakar Dan Khasiatnya

Pengobatan dan Perawatan Berdasarkan Derajat Luka Bakar

Pengobatan luka bakar ditentukan berdasarkan jenis atau derajat luka bakar. Berikut ini adalah beberapa langkah penanganan luka bakar berdasarkan derajatnya:

Penggunaan obat-obatan

Luka bakar derajat ringan dan sedang dapat ditangani dengan salep luka bakar yang mengandung bahan alami, seperti lidah buaya atau daun binahong, salep antibiotik, dan obat penghilang rasa sakit, seperti paracetamol. Jika tidak kunjung membaik, luka bakar yang Anda alami tetap perlu diperiksa dan diobati oleh dokter.

Operasi

Penanganan derajat luka bakar tingkat 3 bisa berupa tindakan bedah dan pencangkokan kulit. Luka bakar yang parah dan merusak sebagian besar jaringan tubuh memerlukan perawatan di rumah sakit.

Selama dirawat di rumah sakit, pasien luka bakar akan mendapatkan terapi infus untuk menjaga asupan cairan tubuh dan tercegah dari dehidrasi, serta suntikan antibiotik melalui infus untuk mencegah infeksi.

Jika luka bakar mengenai bagian wajah pasien, dokter mungkin akan melakukan intubasi untuk membantu pasien bernapas melalui ventilator. Pasien dengan derajat luka bakar tingkat 3 juga mungkin memerlukan perawatan pascaoperasi, seperti fisioterapi, terapi okupasi, dan psikoterapi.

Agar derajat luka bakar yang dialami tidak semakin parah, pastikan Anda tidak mengobati luka bakar dengan obat rumahan, seperti es, pasta gigi, mentega, atau telur. Hindari pula menempelkan bola kapas atau tisu pada luka bakar karena serat kecil kapas bisa menempel pada luka dan meningkatkan risiko infeksi.

Jangan sekali-sekali melakukan pengobatan rumahan terhadap luka dengan derajat luka bakar tingkat 3. Jika Anda mengalami luka bakar yang derajatnya berat, segeralah pergi ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

Pasalnya, luka bakar yang parah membutuhkan perawatan medis sesegera mungkin. Hal ini dapat membantu mencegah munculnya jaringan parut, terjadinya cacat tubuh, dan kelainan bentuk tubuh.

Efek Kelebihan Hormon Estrogen Bisa Terjadi pada Wanita dan Pria

Efek Kelebihan Hormon Estrogen – Dalam dunia medis, kelebihan hormon estrogen disebut dengan istilah hiperestrogenisme atau estrogen dominance. Kondisi ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, misalnya efek samping obat-obatan tertentu, obesitas, terapi hormon, atau penyakit tertentu, seperti PCOS.

Dampak Kelebihan Estrogen pada Wanita

Hormon estrogen pada wanita berfungsi membantu perkembangan organ seks, mengatur siklus menstruasi, dan mendukung fungsi sistem reproduksi wanita. Di tubuh wanita, hormon estrogen diproduksi secara alami di ovarium atau indung telur.

Dalam kondisi normal, jumlah hormon estrogen di dalam tubuh wanita akan meningkat pada masa pubertas, ovulasi atau masa subur, dan selama masa kehamilan. Namun, jumlah hormon tersebut akan kembali menurun hingga ke kadar normalnya.

Ketika kadar hormon estrogen di dalam tubuhnya terlalu tinggi, seorang wanita bisa mengalami beberapa gejala berikut ini:

  • Sakit kepala dan rambut rontok
  • Badan terasa lemas dan sulit tidur
  • Menstruasi tidak teratur
  • Suasana hati atau mood berubah-ubah
  • Tangan dan kaki terasa dingin
  • Susah tidur
  • Perut terasa kembung
  • Payudara terasa padat dan nyeri
  • Gairah seks menurun

Munculnya gejala akibat kelebihan hormon estrogen tersebut terkadang sulit diprediksi. Wanita yang mengalami kondisi ini kerap menjadi sangat emosional, terutama saat menjelang masa subur.

Menurut beberapa studi, kelebihan hormon estrogen juga dapat menyebabkan wanita lebih berisiko terkena penyakit tertentu, seperti kanker payudara, kanker endometrium, dan penyakit jantung.

Dampak Kelebihan Estrogen pada Pria

Estrogen juga secara alami terdapat di dalam tubuh pria, namun jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan kadar estrogen di dalam tubuh wanita. Hal ini karena hormon seks utama pada pria adalah hormon testosteron.

Meski hormon estrogen tidak dominan, pria tetap berpotensi mengalami gangguan kesehatan jika kadar hormon estrogen di dalam tubuhnya berlebih. Pria yang mengalami kelebihan hormon estrogen bisa mengalami beberapa kondisi berikut ini:

Pembesaran dada (ginekomastia)

Kelebihan hormon estrogen bisa membuat jaringan lemak menumpuk di bagian dada pria. Akibatnya, pria dengan kadar estrogen yang tinggi bisa mengalami pembesaran dada atau ginekomastia.

Disfungsi ereksi

Kesehatan seksual pria dipengaruhi oleh keseimbangan hormon estrogen dan testosteron. Jika kadar hormon estrogen terlalu tinggi, seorang pria mungkin bisa mengalami kesulitan ereksi maupun mempertahankannya. Hal ini bisa membuat performa dan kepuasan seks pria terganggu.

Kemandulan

Hormon estrogen berpengaruh pada produksi sperma. Jika kadar estrogen ini terlalu tinggi, kandungan sperma di dalam air mani akan menurun dan menyebabkan kemandulan.

Baca Juga : Mengenal Impaksi Gigi Dan Cara Mengatasinya

Diagnosis dan Penanganan Kelebihan Hormon Estrogen

Kelebihan hormon estrogen pada pria maupun wanita bisa dideteksi melalui pemeriksaan medis oleh dokter. Untuk mendiagnosis kondisi tersebut, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang terdiri dari tes darah untuk mengevaluasi kadar hormon estrogen di dalam tubuh pasien.

Saat memastikan diagnosis, dokter akan melakukan penanganan sesuai penyebabnya. Misalnya, jika kelebihan hormon estrogen di dalam tubuh disebabkan efek samping terapi pengganti hormon, dokter mungkin akan menghentikan terapi tersebut atau mengurangi dosis hormon estrogen yang diberikan.

Selain itu, dokter juga bisa mengatasi kelebihan hormon estrogen dengan beberapa langkah penanganan, seperti:

Pemberian obat-obatan

Untuk mengurangi kadar hormon estrogen dan membuat jumlahnya kembali normal, dokter dapat meresepkan obat-obatan berikut ini:

  • Exemestane (Aromasin)
  • Letrozole (Femara)
  • Anastrozole (Arimidex)
  • Goserelin (Zoladex)
  • Leuprolide (Lupron)

Operasi

Pada wanita, jika kadar hormon estrogen tidak dapat dinormalkan dengan pemberian obat-obatan atau jika disebabkan oleh kanker, dokter mungkin akan menyarankan langkah operasi untuk menangani kelebihan estrogen. Operasi yang bisa dilakukan adalah operasi pengangkatan ovarium atau oophorectomy.

Selain itu, dokter juga bisa memberikan penanganan tertentu, seperti terapi radiasi pada ovarium untuk membuat ovarium berhenti menghasilkan estrogen yang berlebihan.

Untuk membantu mengurangi jumlah estrogen agar kembali normal, Anda juga bisa memperbanyak konsumsi makanan tertentu, seperti brokoli, bok choy, lobak, kembang kol, dan kubis.

Selain itu, konsumsi teh hijau dan beragam biji-bijian, termasuk wijen dan biji rami, juga diduga dapat menurunkan kadar hormon estrogen. Meski demikian, efektivitas makanan tersebut untuk menormalkan kadar estrogen yang berlebihan masih perlu diteliti lebih lanjut.

Penyakit pada Pankreas yang Perlu Diwaspadai

Penyakit pada Pankreas yang Perlu Diwaspadai – Pankreas merupakan organ yang bertugas untuk memproduksi enzim pencernaan yang berperan dalam proses penguraian protein, gula, dan lemak di dalam makanan serta minuman agar lebih mudah diserap oleh tubuh.

Selain itu, pankreas juga berperan dalam menghasilkan hormon insulin dan glukagon yang berperan sebagai pengatur kadar gula dalam darah. Ketika pankreas mengalami gangguan, fungsinya pun akan terganggu sehingga muncul berbagai masalah kesehatan.

Macam-Macam Penyakit pada Pankreas dan Gejalanya

Setiap penyakit pada pankreas disebabkan oleh hal yang berbeda dan memiliki gejalanya tersendiri. Berikut ini adalah beberapa penyakit pada pankreas yang penting untuk Anda ketahui:

Diabetes

Diabetes tipe 1 dan tipe 2 merupakan bentuk penyakit pada pankreas yang cukup sering terjadi. Penyakit ini muncul ketika kinerja atau produksi hormon insulin yang dihasilkan pankreas terganggu.

Diabetes tipe 1 disebabkan oleh kelainan autoimun ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel pankreas yang sehat, sehingga pankreas tidak dapat menghasilkan insulin.

Sementara itu, diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak mampu menggunakan insulin dengan efektif. Seiring waktu, hal ini membuat pankreas sulit atau tidak mampu menghasilkan insulin. Diabetes tipe 2 diduga terjadi akibat faktor genetik dan pola makan atau gaya hidup yang tidak sehat.

Secara umum, beberapa gejala yang dialami penderita diabetes adalah sering buang air kecil di malam hari, sering merasa haus dan lapar, mudah lelah, pandangan kabur, serta luka yang sulit sembuh.

Pankreatitis akut

Pankreatitis akut adalah kondisi ketika pankreas mengalami peradangan secara tiba-tiba. Pada sebagian besar kasus, pankreatitis akut disebabkan oleh batu empedu dan konsumsi alkohol dalam jumlah banyak atau jangka waktu lama.

Namun, selain kedua penyebab tersebut, pankreatitis akut juga bisa disebabkan oleh infeksi virus, kelainan genetik, atau efek samping obat-obatan.

Gejala utama pankreatitis akut adalah nyeri perut yang muncul secara tiba-tiba. Rasa nyeri tersebut bisa menjalar sampai ke dada atau punggung dan terasa semakin parah ketika penderitanya batuk atau menarik napas dalam-dalam.

Selain nyeri perut, pankreatitis akut juga dapat menimbulkan gejala demam, diare, mual dan muntah, perut bengkak, kulit dan mata menguning, serta jantung yang berdetak lebih cepat atau dada berdebar.

Pankreatitis kronis

Seperti halnya pankreatitis akut, kasus pankreatitis kronis juga lebih banyak disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol. Selain itu, penyakit ini juga bisa disebabkan oleh batu empedu, penyakit autoimun, hiperparatiroidisme, kelainan genetik, hiperlipidemia, hingga efek samping obat-obatan.

Penderita pankreatitis kronis bisa merasakan gejala pankreatitis hingga berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Berikut ini adalah beberapa gejala penyakit pakreatitis kronis yang perlu diwaspadai:

  • Nyeri perut yang menjalar hingga ke punggung
  • Sering mual dan muntah, terutama setelah makan
  • Nafsu makan berkurang
  • Penurunan berat badan
  • Tinja yang berminyak
  • Kulit dan mata menguning

Pada tahap lanjut, pankreatitis kronis bisa menyebabkan pankreas sulit menghasilkan insulin, sehingga terjadi diabetes. Jika sudah demikian, penderitanya bisa mengalami gejala diabetes seperti sering merasa haus, mudah lelah, dan sering buang air kecil.

Fibrosis kistik

Fibrosis kistik adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan genetik. Penyakit ini membuat lendir di dalam tubuh menjadi lebih kental dan lengket, sehingga dapat menyumbat sejumlah saluran tubuh. Salah satu organ yang dapat terganggu akibat fibrosis kistik adalah pankreas.

Fibrosis kistik di saluran pencernaan dan pankreas dapat menimbulkan gejala berupa tinja yang berminyak dan sangat bau, diare atau sembelit parah, serta sakit kuning. Penyakit ini juga dapat mengakibatkan gangguan penyerapan nutrisi, sehingga membuat penderitanya mengalami penurunan berat badan akibat malnutrisi.

Kanker pankreas

Kanker pankreas merupakan jenis kanker yang tergolong jarang terjadi. Akan tetapi, penyakit pada pankreas ini memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi.

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker pankreas, yaitu riwayat kanker pankreas dalam keluarga, kebiasaan merokok atau mengonsumsi minuman beralkohol, hingga penyakit tertentu seperti sirosis, diabetes, dan pankreatitis.

Pada tahap awal, kanker pankreas sering kali tidak bergejala. Namun, seiring berkembangnya penyakit pada pankreas ini, penderita kanker pankreas dapat mengalami beberapa gejala berikut:

  • Kulit dan mata tampak kuning
  • Sakit perut yang menjalar ke punggung
  • Hilangnya selera makan
  • Berat badan turun secara drastis tanpa sebab yang jelas
  • Demam
  • Gatal-gatal di kulit
  • Mual dan muntah
  • Tinja berwarna pucat atau keputihan
  • Warna urine gelap

Insufisiensi pankreas

Insufisiensi pankreas atau exocrine pancreas insufficiency (EPI) terjadi ketika pankreas tidak dapat memproduksi dan melepaskan enzim pencernaan yang cukup bagi tubuh, sehingga menimbulkan kondisi malnutrisi.

Ada berbagai kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya EPI, yaitu pankreatitis, fibrosis kistik, diabetes, kista atau tumor pada pankreas, riwayat operasi pada pankreas, hingga kelainan genetik dan gangguan autoimun.

Penyakit EPI dapat menimbulkan beberapa gejala, seperti nyeri perut, perut kembung, diare, penurunan berat badan, serta tinja berminyak dan tampak pucat.

Baca Juga : Apa Yang Bisa Didapatkan Dari Tes DNA

Pseudokista pankreas

Pseudokista pankreas adalah penyakit pada pankreas yang terjadi setelah seseorang menderita pankreatitis. Penyakit ini ditandai dengan terbentuknya kantung yang berisi cairan di pankreas. Selain pankreatitis, kondisi ini juga dapat terjadi akibat cedera perut yang membuat pankreas terluka dan bengkak.

Secara umum, gejala pseudokista pankreas adalah mual dan muntah, diare, tidak selera makan, berat badan menurun, demam, munculnya benjolan di perut, sakit kuning, serta nyeri perut.

Beberapa Langkah Penanganan Penyakit pada Pankreas

Penyakit pada pankreas ada banyak dan masing-masing penyakit tersebut memiliki gejala dan penyebabnya tersendiri. Jika Anda mengalami gejala-gejala penyakit pada pankreas, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

Untuk mendiagnosis penyakit pada pankreas dan memastikan penyebabnya, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti tes darah, USG perut, foto Rontgen, CT scan, hingga endoksopi pankreas atau ERCP.

Setelah memastikan diagnosis penyakit pada pankreas dan memastikan penyebabnya, dokter akan memberikan pengobatan yang tepat. Berikut ini adalah beberapa langkah penanganan untuk mengobati penyakit pada pankreas:

Pemberian obat-obatan

Untuk mengobati diabetes, dokter dapat memberikan obat antidiabetes dan suntikan insulin. Sedangkan untuk menangani gangguan pencernaan akibat EPI dan fibrosis kistik, dokter dapat memberikan suplemen enzim pencernaan. Dokter juga mungkin akan memberikan antibiotik jika terdapat infeksi pada pankreas.

Sementara itu, untuk meredakan nyeri dan peradangan pada pankreas, dokter dapat memberikan obat-obatan antinyeri, seperti paracetamol.

Operasi

Operasi biasanya dilakukan untuk mengobati penyakit pada pankreas akibat terbentuknya batu empedu, tumor atau kanker, serta cedera pada pankreas. Untuk menangani kanker pankreas, tindakan operasi umumnya diikuti dengan kemoterapi dan terapi radiasi.

Diet khusus dan terapi infus

Saat fungsi pankreas terganggu, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk berpuasa selama beberapa hari dan menjalani rawat inap di rumah sakit agar dokter dapat memberikan terapi infus.

Selain itu, Anda juga akan disarankan untuk menjalani diet khusus, yaitu diet rendah lemak, serta tinggi serat dan karbohidrat kompleks.

Apa pun penyebabnya, penyakit pada pankreas penting untuk terdeteksi sejak dini agar bisa ditangani secepat mungkin. Hal ini penting dilakukan agar pankreas dapat kembali berfungsi dengan baik.

Kenali Penyebab Perikondritis dan Cara Mengobatinya

Kenali Penyebab Perikondritis dan Cara Mengobatinya – Perikondritis sering terjadi pada orang yang memiliki diabetes atau daya tahan tubuh yang lemah. Jika terlambat diobati, perikondritis akan menyebabkan kecacatan bentuk telinga yang menjadi seperti bunga kol atau disebut juga dengan cauliflower ear.

Kenali Penyebab Perikondritis

Penyebab utama terjadinya perikondritis adalah infeksi bakteri Pseudomonas aeruginosa. Infeksi bakteri ini umumnya terjadi sebagai efek samping tindik telinga yang menembus tulang rawan (bagian atas daun telinga).

Selain efek samping tindik telinga, ada beberapa faktor lain yang juga dapat meningkatkan risiko terjadinya perikondritis, di antaranya:

  • Gigitan serangga
  • Cedera saat olahraga, seperti tinju
  • Cedera karena tindakan operasi pada telinga
  • Luka bakar pada daun telinga
  • Infeksi telinga luar (otitis eksterna)
  • Penyakit autoimun, seperti granulomatosis dengan poliangitis

Ragam Gejala Perikondritis

Gejala utama perikondritis adalah:

  • Nyeri
  • Kemerahan
  • Pembengkakan di daun telinga

Pada kasus yang parah, perikondiritis dapat menyebabkan demam, keluar nanah dari telinga, kerusakan bentuk telinga. Sedangkan pada kasus perikondritis yang kambuh-kambuhan, gejala yang bisa terjadi adalah:

  • Daun telinga terlihat lunglai (floppy ear)
  • Penurunan pendengaran secara mendadak
  • Vertigo
  • Tinnitus
  • Gangguan keseimbangan
  • Keluar cairan dari telinga
  • Infeksi telinga tengah

Pengobatan Perikondritis

Umumnya, perikondritis bisa langsung dikenali setelah dokter menanyakan keluhan dan memeriksa kondisi telinga. Namun, jika keluhan telah dirasakan berulang-ulang, dokter mungkin merujuk Anda ke dokter ahli reumatologi untuk menentukan apakah perikondritis dipicu oleh penyakit autoimun.

Baca Juga : Penyebab Sakit Telinga

Cara mengobati perikondritis perlu disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan gejalanya. Berikut ini adalah beberapa pengobatan medis yang dapat membantu mengatasi perikondritis;

Antibiotik

Antibiotik sering kali diresepkan dokter untuk membasmi bakteri penyebab perikondritis. Antibiotik yang diresepkan bisa digunakan dengan cara diminum atau dioleskan, tergantung pada tingkat keparahannya. Pastikan untuk menghabiskan antibiotik sampai tuntas agar bakteri musnah sepenuhnya.

Steroid

Pada kasus perikondritis yang disebabkan oleh penyakit autoimun, dokter mungkin akan meresepkan obat kortikosteroid, seperti prednison. Obat ini bekerja dengan cara menekan respons sistem kekebalan tubuh sehingga mengurangi peradangan.

Insisi dan drainase

Jika terdapat abses atau kumpulan nanah pada daun telinga, umumnya dokter akan melakukan tindakan insisi drainase, yaitu membuat sayatan kecil pada daun telinga untuk mengeluarkan nanah di dalamnya.

Operasi

Bila perikondritis sampai menyebabkan cauliflower ear, dokter akan merekomendasikan tindakan operasi plastik untuk mengembalikan telinga ke bentuk semula. Dalam hal ini, pasien mungkin juga dirujuk ke dokter bedah plastik.

Perikondritis bisa menjadi kondisi yang berat meskipun penyebabnya sederhana. Oleh karena itu, selalu antisipasi kondisi ini dengan menjaga kebersihan dan kesehatan daun telinga.